Minggu, 23 Juni 2013

Ayah, Medina Kamil,WAWWW

Disaat aku mengetik blog ini,pikiran ku sedang beradu kerinduan dengan keluargaku terutamanya ayah, entah mengapa sosok ayah begitu banyak mengisi cerita atau kenangan manis ku bersamanya. Maafkan anakmu ini ibu.Terkadang ibu begitu sering terlupakan oleh ku.

beberapa minggu yang lalu aku pulang kampung dengan durasi diam di rumah melebihi kepulanganku sebelumnya, biasanya aku hanya pulang untuk beberapa saat. Kemudian meninggalkan mereka lagi dan asik dengan kesibukan ku bersama kawan-kawan. Mungkin ini lah waktu tu untuk merasakan kehangatan mereka.

Bersama abangku,aku menyusuri kembali kampung halamaku, disaat itu lah dia bercerita bahwa Medina Kamil Jejak petualang punya hubungan Ibu(Suku) dengan istrinya.Tapi mereka telah lama merantau ke jakarta meninggalkan muaro putuih. Selintas aku menanggapi cerita itu dengan ekspresi biasa. Karena anggapanku terlalu sering kita menceritakan sosok yg terkenal mempunyai hubungan dengan kita. Menjadi semacam hal yang biasa di minang khususnya pariaman secara kultural. Kalau yang mereka ceritakan orang terkenal maka seolah2 kita dekat denganny "balancik-lancik rumah wak ma",jika sosok itu orang biasa maka kita tak begitu mengenalnya "piaman laweh".

Ketika abang bercerita bahwa ibunya Medina kamil pernah di tunangankan dengan ayah, seketika itu ibaratkan mobil RPM otak ku langsung berputar kencang.WAWWW..begitukah banyak sisi-sisi kehidupan ayah yang tak ku ketahui.Entah apa yang membuatnya lebih memilih ibuku daripada ibu medina kamil.

Seorang lelaki yang lebih memilih IKIP bandung dan meninggalkan hukum UI. Menyelesaikan SMA di Budi Utomo Jakarta. kemudian memilih mengajar di SMA distrik Maninjau kala itu,dan meminta pindah ke Tiku yang tak memiliki SMA,kemudian menikahi gadis kampung.Bagiku generasi sekarang adalah sebuah pilihan yang sulit. 

Ayah kau begitu banyak menyimpan cerita perjalanan hidupmu, bahkan kau tak pernah melanjutkan sekolah mu karena hanya tak ingin anak-anakmu terlihat lebih bodoh dari mu.Ahh,,aku mulai terbawa suasana hati.sudahlah,aku tak ingin melanjutkan tulisan ini.cukup jadi cerita keluarga kita bahwa pilihan bukanlah mengenai baik dan buruk tapi pilihan adalah perjalanan.

Love U dad.Love U mom.









Senin, 22 April 2013

Djakarta, Oleh: Pramoedya Ananta Toer

Djakarta
Cerpen Pramoedya Ananta Toer

Almanak Seni 1957

Sekarang tiba gilirannja: dia djuga mau pergi ke Djakarta.

Aku takkan salahkan kau, mengapa kau ingin djadi wargakota Djakarta pula. Besok atau lusa keinginan dan tjita itu akan timbul djuga. Engkau di pedalaman terlampau banjak memandang ke Djakarta. Engkau bangunkan Djakarta dalam anganmu dengan segala kemegahan jang tak terdapat di tempatmu sendiri. Kau gandrung padanja. Kau kumpulkan tekat segumpil demi segumpil.

Ah, kawan, biarlah aku tjeritakan kau tentang Djakarta kita.

Tahun 1942 waktu untuk pertama kalinja aku indjak tanah ibukota ini, stasiun Gambir dikepung oleh del­man. Kini delman ini telah hilang dari pemandangan kota —hanja tudjubelas tahun kemudian! Betjak jang menggantikannja. Kuda-kuda diungsikan ke pinggiran kota. Dan kemudian: manusia-manusia mendjadi kuda dan sopirnja sekali: begini tidak ada ongkos pem­beli rumput! Inilah Djakarta. Demi uang manusia se­dia djadi kuda. Tentu sadja kotamu punja betjak djuga tetapi sudah djadi adat daerah meniru kebobrokan ibu­kota.

Bukan salah manusia ini, kawan. Seperti engkau djuga, orang-orang ini mengumpulkan tekat segumpil demi segumpil­ perawan-perawan sawah, ladang dan pegunungan, buruh-buruh tani, petani-petani sendiri jang bidang tanahnja telah didih di dalam perasaannja, warga-warga dusun jang dibuat porak poranda oleh gerombolan, peladjar-peladjar jang hendak meneruskan peladjaran, djuga engkau sendiri —dan dengan penuh kepertjajaan akan keindahan nasib baik di ibukota.

Kemudian bila mereka sampai di Djakarta kita ini, perawan-perawan pedalaman jang datang kemari sekedar tjari makan, dia dapat makan, lupa tjari makan, dia kepingin kesenangan, dan tiap malam berderet di­ depan gedung tempat kerdjanja masing-masing. Pria tidak semudah itu mendapat pekerdjaan, dan achirnja mendjadi kuda. Beberapa bulan kemudian paha para pria ini mendjadi begitu penuh sesak dengan otot jang ter­lampau banjak dipaksa kerdja. Tiap minggu mereka menelan telur ajam mentah. Dan djalan raja memberinja kemerdekaan penuh. Bila datang bahaja ia lepas betja berdjalan sendirian, dan ia melompat ke kaki lima. Djuga tanggung djawab delman hilang di tangan kuda-kuda ini. Beberapa tahun kemudian ia ‘ngedjengkang’ di balenja karena djantungnja mendjadi besar, desakan darahnja meninggi: ia invalid —puluhan! ratusan ribu! kembali ke kampung sebagai sampah. Bila ada kekajaan, adalah kekajaan membual tentang kepele­siran. Tetapi untuk selama-lamanja ia telah mati, su­dah lama mati. Djumlah kurban ini banjak daripada kurban revolusi bakalnja.

Djadi engkaupun ingin djadi warga Djakarta!

Djadi engkaupun ingin djadi sebagian kegalauan ini.

Dari rumah masing-masing orang bertekat mentjari uang di Djakarta. Djuga orang-orang daerah jang kaja mengandung maksud: ke Djakarta —hamburkan uang­nja. Dan djuga badjingan-badjingan daerah: ke Dja­karta —menangguk duit. Demi duit ini pula Djakarta bangun. Sebenarnja sedjak masuknja kompeni ke Dja­karta, Djakarta hingga kini belum djuga merupakan kota, hanja kelompokan besar dusun. Hingga sekarang. Tidak ada tumbuh kebudajaan kota jang spesifik, semua dari daerah atau didatangkan dan diimport dari luar negeri: dansa, bioskop, pelesiran, minuman keras dan agama, berbagai matjam agama.

Aku lupa, bahwa kau datang hendak kemari untuk beladjar. Tetapi barangkali patut pula kau djadikan ke­nangan, pusat beladjar daerah kita adalah Djakarta. Tetapi sungguh aku sesalkan, bahwa Djakarta kita bu­kanlah pusat beladjar jang mampu menjebabkan para mahasiswa ini mendjadi perspektif kesardjanaan Indonesia di kemudian hari. Sisa-sisa intelektualisme karena gebukan balatentara Dai Nippon kini telah bangkit kembali dengan hebatnja. Titel akademi jang diperoleh tiap tahun beku dikantor-kantor, dan daerah­mu tetap gersang menginginkan bimbingan. Dan bimbingan itu masih tergantung-gantung djauh di ang­kasa biru. Semua orang asing, dengan warna politiknja masing-masing, jang memberi kauremah-remah dari­pada kekajaan kita terbaik jang diisapnja.

Aku tahu, engkau orang daerah, orang pedalaman memdewakan pemimpin-pemimpinmu, tetapi aku lebih dekat pada kenjataan ini. Aku tahu engkau berteriak­-teriak tentang perekonomian nasional, tetapi basis ke­hidupan jang didasarkan atas perdagangan eksport, bukan sadja typis negara agraria, djuga negara kolonial. Sepandjang sedjarah negara-negara petani mendjadi negeri djadjahan, dan tetap mendjadi negeri djadjahan.

Dan bukankah petani-petani daerahmu masih tetap hamba-hamba di djaman Madjapahit, Sriwidjaja atau Mataram? Siang kepunjaan radja, malam kepunjaan durdjana! Dan radja di djaman merdeka kita ini ada­lah naik-turunnja harga hasil pertaniannja sendiri. Se­dang durdjananja tetap djuga durdjana Madjapahit, Sriwidjaja dan Mataram jang dahulu: perampok, pen­tjuri, gerombolan, pembunuh, pembegal.

Djadi beginilah, kawan. Djakarta merupakan impian orang daerah. Semua ingin ke Djakarta. Tapi Djakarta sendiri hanja kelompokan besar dusun, bahkan bahasa perhubungan jang masak tidak punja. Anak-anak men­djadi terlampau tjepat masak, karena baji-baji, kanak­-kanak dan orangtuanja digiring ke dalam ruangan­-ruangan jang teramat sempit sehingga tiap waktu me­reka bergaul begitu rapat. Masalah orangtua tak ada jang tabu lagi bagi kanak-kanak. Kewibawaan orangtua men­djadi hilang, dan segi-segi jang baik daripada perhubungan antara orangtua dan anak dahulu, kini mendjadi tum­pul. Agama telah mendjadi gaja kehidupan, bukan perbentengan rohani jang terachir. Aku tjeritai kau, kemarin anakku jang paling amat besar enam umurnja, bertjerita: Orang-orang ini dibuat Tuhan. Tapi apakah randjang ini dibuat olehNja djuga? Ia pandangi aku. Waktu kutanjakan kepadanja bagajmana warna Tuhan: hitam ataukah merah? Ia mendjawab Putih! Ia pilih warna jang tidak mengandung interpretasi, tidak di­warnai oleh pretensi. Sebaliknja kehidupan Djakarta ini—dan barangkali patut benar ini kau ketahui: penuh-sesak dengan interpretasi dan pretensi ini. Di­ segala lapangan! Lebih mendjengkelkan daripada itu: tiap-tiap orang mau mendesakkan kepunjaannja masing-­masing kepada orang lain, kepada lingkungannja. Sungguh-sungguh tiada tertanggungkan. Barangkali kau pernah peladjari sedjarah kemerdekaan berpikir. Bila demikian halnja kau akan dikutuki tjelaka.

Tetapi djangan kaukira, bahwa kegalauan ini ber­arti mutlak. Barangkali adanja kegalauan ini hanjalah suatu salahharap daripadaku sebagai perseorangan. Aku seorang pengarang, dan pengarang di masa kita ini, terutama di ibukota kita, adalah sematjam kerbau jang salah mendarat di tanah tandus. Setidak-tidaknja kega­lauan ini memberi rahmat djuga bagi golongan-golongan terten­tu, terutama bagi para pedagang nasional, jakni jang berdjualbelikan kenasionalan tanah-airnja dan dirinja. Mungkin engkau tidak setudju. Tetapi barangkali lebih baik demikian. Sungguh lebih menjenangkan bagimu bila masih punja pegangan pada kepertjajaan akan kebaikan segala jang dimiliki oleh tanah-airmu dalam segala segi dan variasinja. Kami golongan pengarang, biasanja tiada lain daripada tenaga penentang, golongan opposisi jang tidak resmi. Resmi: pengarang. Tidak resmi: opposisi periuk terbaik! Dengan sendi­dirinja sadja begitu, karena kami bitjara dengan selu­ruh ada kami, kami hanja punja satu moral. Itu pula sebabnja, bila kami tewas, tewas setjara keseluruhan. Bukannja tewas di moral jang pertama, tetapi mendjadi tambun di moral jang keempat! mendjadi melengkung di moral jang ketiga!

Aku kira terlampau djauh lantaranku ini. Padamu aku mau bitjara tentang Djakarta kita.

Sekali waktu di suatu peristiwa, Omar pernah bitjara dengan sombongnja: Bakar semua chazanah, karena segalanja telah termaktub di dalam Qur’an! Permun­tjulan jang grandiues tapi tak punja kontour-kontour kenjataan ini adalah gambaran kedjiwaan Djakarta: rentjana-rentjana besar, galangan-galangan terbesar di Asia Tenggara, tugu terbesar di Asia, kemerosotan mo­ral terbesar! segala terbesar. Tapi tak ada sekrup, tak mur, tak ada ada drat, tak ada nipple, tak ada naaf, tak ada inden dan ring pada permesinan semua ini.

Sekali waktu disuatu peritiwa, Pascal mentjatat di­ dalam bukunja: Manusia hanja sebatang rumput, teta­pi rumput jang berakal budi. Dan rumput ini adalah golongan jang mempunjai kesadaran tanpa kekuasaan, terindjak dan termakan. Jang lahir, kering dan mati dengan diam-diam. Namun mendjadi permulaan dari pada kehidupan, seperti jang disaksikan oleh Schweit­zer, serta risalah Kan Ying Pien.

Berbagai matjam angkatan tjampur-baur mendjadi satu, seperti sambal jang menerbitkan satu rasa, tetapi dengan teropong masih djelas nampak perpisahan an­tara bagian satu dengan jang lain. Namun pentypean sematjam jang tegakkan oleh Remarque tidak memper­lihatkan diri.

Barangkali engkau keberatan dengan kata-kataku itu. Tetapi memang demikian. Tjobalah ikuti tulisan-tulisan angkatan demi angkatan. Angkatan jang muda mentja­tji jang tua, jang muda ditjatji oleh jang lebih muda. Tetapi, kata Ramadhan KH jang pernah aku dengar, angkatan muda ini bila diberi kesempatan, dia kehilangan segala proporsi dan lemih mendjadi badut lagi. Artinja badut di lingkungan badut. Tokoh-tokoh pemi­kiran mengetengahkan Wulan Purnomosidhi dan Ada­ tidaknja Tuhan, di dalam kekatjauan sosiologis, ekono­mis dan politis, kultural dan intertual! Apakah kita mesti ikut pukul kaleng untuk membuat segala ini men­djadi bertambah ramai? Sedang anak-anak murid ini telah demikian goiat dengan membanggakan pengeta­huannja tentang para tjabul dan ‘rakjat ketjil’ plus sa­duran Toto Sudarto Bahtiar Tjabul Terhormat karang­an Sartre? Plus Margaretta Gouthier saduran Hamka dari Alexander Dumas Jr. Hamka? ja Hamka.

Achirnja, seperti kata A.S. Dharta, orang-orang da­tang dan berkumpul ke Djakarta, mendjadi warga Dja­karta, untuk mempertjepatkan keruntuhan kelompokan besar dusun ini. Tambah banjak jang datang tambah tjepat lagi.

Selagi aku belum djadi penduduk Djakarta, dambaanku mungkin seperti kau punja. Impian jang indah, bajangan pada pembangunan hari depan. Diri masih pe­nuh diperlengkapi kekuatan, kemampuan dan kepertja­jaan diri. Barangkali bagimu segala itu lebih keras lagi. Karena di daerah bertiup angin: orang takkan djadi warganegara jang 100% sebelum melihat Djakarta de­ngan mata kepala sendiri.

Barangkali engkau akan bertanja kepadaku, mengapa tak djuga menjingkirkan diri dari Djakarta! Ah, kau. Golongan kami adalah sematjam kerbau jang mendarat di tanah tandus. Golongan kami reaksioner di lapangan penghidupan. Sekalipun tandusnja penghidupan golong­an kami, djustru Djakartalah jang bisa memberi, seka­lipun hanja remah-remah para pedagang nasional, atau petani pasar minggu. Tambah lama nasi jang sepiring harus dibagi dengan empat-lima anak-anaknja. Dan anak-anak ini akan mengalami masa kehilangan masa kanak-kanak, masa kanak-kanaknja sendiri. Kanak-kanak Djakarta jang tak punja lapangan bergerak, tak punja lapangan bermain, tak punja daerah perkem­bangan kedjiwaan, menjurus dari gang dan got, membunuh tiap marga-satwa jang tertangkap oleh matanja. Katak dan ketam dan belut dan burung mengalami lik­widasi, di Djakarta! Tetapi njamuk meradjalela, dan tjitjak dan sampah. Djuga mereka ini hidup di alam ketaksenangan. Taman-taman hanja di daerah Menteng dan perkampungan baru. Engkau tahu, djadi orang apa ka­nak-kanak sematjam ini djadinja di kemudian hari.

Engku tahu, ada pernah dibisikkan kepadaku: da­erah jang punja taman adalah lahir dan berkembang karena telah menghisap darah daerah jang tak punja taman. Tentu sadja bisikan ini konsekwensi daripada prinsip perdjuangan kelas. Barangkali engkau tak setu­dju, karena ini membawa-bawa politik atau pergeseran kemasjarakatan jang berwarna politik atau politik ekonomi. Mungkin djuga hanja suatu kedengkian jang tak sehat. Tapi apakah jang dapat kauharapkan dari suatu masjarakat dimana sebahagian besar warganja hidup dalam suasana tak senang, tak ada pegangan, tak ada kepertjajaan pada haridepan! Sedang para pedagang nasional djuga tak punja haridepan, karena kemanisan jang diperolehnja harikini diisapnja habis harikini pula, untuk dirinja sendiri tentu, atas nama kenaikan harga tentu, sehingga mereka mendjadi para turis di daerah kehidupannja sendiri.

Segala jang buruk berkembang-biak dengan mantiknja di Djakarta ini. Segi-segi kehidupan amatlah runtjing­nja dan melukai orang jang tersinggung olehnja. Tetapi wargakota jang sebelum proklamasi bersikap apatis ­— apatisnja seorang hamba — kini kulihat apatisnja orang merdeka dengan djiwa hambanja. Bukan penghinaan, sekalipun suatu peringatan itu kadang-kadang terasa

sebagai penghinaan. Di dalam kehidupan jang tidak menjenangkan apakah jang tak terasa sebagai penghi­naan! Dan tiap titik jang menjenangkan dianggap pudjian, atau setidak-tidaknja setjara subjektif: penga­kuan dari pihak luaran akan kesamaan martabat dengan orang atau bangsa jang memang telah merdeka dan tahu mempergunakan kemerdekaannja. Barangkali engkau menghendaki ketegasan utjapan ini. Baiklah aku tegaskan kepadamu: memang wargakota belum lagi 25% bertindak sebagai bangsa merdeka. Anarki ketjil­-ketjilan, sebagaimana mereka dahulu dilahirkan dalam lingkungan jang serba ketjil-ketjil pula: buang sam­pah digot! bandjir tiap hudjan akibatnja; pendudukan tanah orang lain jang disadari benar bukan tanahnja sendiri menurut segala hukum jang ada, sekalipun sah menurut hukum jang dikarang-karangnja sendiri: ketimpangan hak tanah adalah ketimpangan penghidupan, kehidupan dan kesedjahteraan sosial. Mengapa? Kare­na besok atau lusa tiap orang dapat didorong keluar dari rumah dan pekarangannja sendiri-sendiri. Kedjo­rokan dan kelalaian jang dengan langsung menudju ke pelanggaran ketertiban bersama. Dan djalan-djalan raja serta segala matjam djalanan umum mendjadi me­dan permainan Djibril mentjari mangsa. Djuga ini akibat hati orang tidak senang. Bawah sadarnja bilang: dia tak dilindungi hukum — dia, baik jang melanggar maupun jang dilanggar.

Nah demikianlah Djakarta kita, sekian tahun setelah merdeka.

Barangkali engkau mengagumi kaum tjerdik-pandai jang sering diagungkan namanja disurat-suratkabar. Hanja sedikit di antara mereka itu jang benar-benar bekerdja produktif-kreatif. Jang lain-lain terpaksa mem­populerkan diri agar tak tumbang dimedan penghidup­an! Apakah jang telah ditemukan oleh universitas Indonesia selama ini jang punja prestasi interna­sional! Di lapangan kepolitikan, apakah pantjasila telah melahirkan suatu kenjataan di mana engkau sadar di hatiketjilmu bahwa kau sudah harus merasa berterimakasih. Aku pernah menghitung, dan dalam sehari pada suatu hari jang tak terpilih, diutjapkan limabelas kali kata pantjasila itu baik melalui pers, radio, atau mulut orang. Sedjalan dengan tradisi pendjadjahan jang selalu dideritakan oleh rakjat kita, maka nampak pula garis-garis jang tegas dalam masa pendjadjahan priaji­-pedagang ini: orang membangun dari atas. Tanpa pondamen. Ah, kawan, kita mengulangi sedjarah ke­gagalan revolusi Perantjis.

Barangkali kau menjesalkan pandanganku jang pessimistis.

Akupun mengerti keberatanmu. Asal sadja kau tidak lupa: sekian tahun merdeka ini belum lagi bitjara apa-apa bagi mereka jang tewas dalam babak pertama revolusi kita. Kalau Anatole France bitjara tentang iblis-iblis jang haus akan darah di masa pemerintahan pergulingan itu, aku bisa djuga bitjara tentang iblis-­iblis jang haus akan kurban, akan kaum invalid peng­hidupan dan kehidupan. Dan bila kurban-kurban dan kaum invalid penghidupan dan kehidupan ini merasa tak pernah dirugikan, itulah tanda jang tepat, bahwa iblis itu telah lakukan apa jang dinamai zakelijkheid dengan pintarnja. Dan bila iblis-iblis ini tetap apa jang biasa dinamai badjingan.

Ini bukanlah jang kita kehendaki dengan zakelijkheid!

Ini bukanlah jang kita kehendaki dengan kehidupan kesardjanaan! kepriajian dan perdagangan!

Sardjana adalah kompas kita, ke mana kita harus pergi mentjari pegangan dalam lalulintas kebendaan di kekinian dan dimasa-masa mendatang. Sardjanamu, sardjanaku, wartawanmu, wartawanku, politisimu, politisiku, melihat adanja kesumbangan, dan: titik, stop. Djuga seperti turis di dalam gelanggang kehidup­annja sendiri.

Barangkali, engkaupun akan menuduh mengapa aku tak berbuat lain daripada mereka. Tetapi akupun tahu, bahwa engkau tidak melupakan sjarat ini: ke­kuasaan. Kekuasaan ini akan ditelan lahap-lahap oleh tiap orang, tetapi tidak tiap orang tahu tjaranja men­dapatkan dan menelannja. Sematjam kutjingmu sen­diri. Sekalipun sedjak lahir kauberi nasi tok, sekali waktu bila ditemukannja daging akan dilahapnja djuga. Djadi kau sekarang tahu segi-segi gelap dari ibukota kita ini. Segi-segi jang terang aku tak tahu samasekali, karena memang hal itu belum lagi diwahjukan kepada­ku, baik melalui inderaku jang lima-limanja ataupun jang keenam. Tetapi aku nasihatkan kepadamu, dalam masa kita ini, djanganlah tiap hal kauanggap mengan­dung kebenaran 100%, dengan menaksir duapuluh prosen pun kau kadang-kadang dihembalang keketje­waan. Djuga demikian halnja dengan uraianku ini.

Aku tahu, engkau seorang patriot dalam maksud dan djiwamu, karena engkau orang daerah jang djauh dari kegalauan kota besar, kumpulan besar dusun ini. Eng­kau akan berdjasa bila bisa membendung tiap orang jang hendak melahirkan diri dari daerahnja hendak memadatkan Djakarta. Tinggallah di daerahmu. Buat­lah usaha agar tempatmu mempunjai sekolah mene­ngah atas sebanjak mungkin. Dan buatlah tiap sekolah menengah atas itu mendjadi bunga bangsamu dike­mudianhari: djadi sumber kegiatan sosial, sumber ke­sedaran politik setjara ilmu, sumber kegiatan pentjip­taan dan latihan kerdja. Pernah aku beri tjeramah di kota kelahiranku dua tahun jang lalu: mobilisasilkan tiap murid ini untuk berbakti pada masjarakatnja, untuk beladjar berbakti, untuk membelokkannja daripada intelektualisme jang hanja mengetahui tanpa ketjakapan mempergunakan pengetahuannja. Apa ilmu pasti jang mereka terima itu bagi kehidupannja di kemudianhari bila tidak berguna ?

Djangan kausangka, aku hendak mendiktekan kema­uanku sendiri. Aku kira aku telah tjukup tua untuk menjatakan semua ini kepadamu—engkau jang ku­harapkan djadi pahlawan pembangun daerahmu. Djuga engkau ada merendahkan petani, karena engkau lahir dari golongan prijaji—pendjadjah petani sepandjang sedjarah pendjadjahan: Djepang, Belanda, Inggris, Mataram, Madjapahit, Sriwidjaja, Mataram dan kera­djaan-keradjaan perompak ketjil jang tidak mempunjai tempat chusus di dalam sedjarah.

Kawan, sebenarnja revolusi kita harus melahirkan satu bangsa baru, bangsa jang nomogeen, bangsa jang bisa menjalurkan kekuasaan itu sehingga mendjadi tenaga pentjipta raksasa, dan bukan menjerbit-njerbit­nja dan melahapnja sehingga habis sampai pada kita, pada rakjat jang ketjil ini. Dari dulu aku telah bilang kekuasaan dan kewibawaan kandas di tangan para petugas. Petugas jang benar-benar pada tempatnja hanja sedikit, dan suaranja biasa habis punah ditelan agitasi politik — sekalipun tiap orang tahu ini bukan masa agitasi lagi, kalau menjadari gentingnja situasi tanah­airnja dalam lalulintas sedjarah dunia !

Kita mesti kerdja.

Tetapi apa jang mesti kita kerdjakan, bila mereka jang kerdja tak mendapat penghargaan dan hasil seba­gaimana mesti ia terima ?

Aku kira takkan habis-habisnja ngomong tentang Djakarta kita, pusat pemerintahan nasional kita ini. Setidak-tidaknja aku amat berharap pada kau, orang daerah, orang pedalaman, bakar habis keinginan ke Djakarta untuk menambah djumlah tugu kegagalan revolusi kita. Bangunkan daerahmu sendiri. Apakah karena itu engkau djadi federalis, aku tak hiraukan lagi. Dulu sungguh mengagetkan hatiku mendengar bisikan orang pada telingaku: mana jang lebih penting, kemer­dekaan ataukah persatuan? Dan kuanggap bisikan ini sebagai benih-benih federalisme. Aku tak hiraukan lagi apakah federalisme setjara sadar dianggap djuga se­bagai kedjahatan atau tidak! Setidak-tidaknja aku tetap berharap kepadamu, bangunkan daerahmu sendiri. Tak ada gunanja kau melantjong ke ibukota untuk men­tjontoh kefatalan di sini.

Kawan, sekianlah.

Djakarta, 17-XII-1955.

Selasa, 09 April 2013

Surat untuk Gadis

Gadis,,
umurku sudah tak muda lagi untuk bertutur kata tentang cinta
Aku lupa bagaimana mengungkapkan rasa
aku juga tak berani untuk bertatap mata

Gadis,,
seperti apakah rasany mencinta
ajarkan aku untuk menyampaikan rasa
agar aku berani menatap mata

Gadis..
semangatku telah lama memudar
aku pernah kecewa akan cinta
sehingga rasa yang ku punya tak pernah lagi ada
tapi aku ingin bahagia

Gadis,,
Melalui surat ini bolehkah aku menyampaikannya
bahwa tatapan matamu membuatku ingin lagi mencinta 
dengan berbagai rasa yg aku punya
bukan lagi untuk kecewa
tapi untuk bahagia

Sumatera, 22.58 9 april 2013

Sabtu, 06 April 2013

Petani Menipis di Negeri Agraris

IBARAT ayam mati di lumbung padi. Begitulah gambaran kondisi nasib petani di Indonesia, saat ini. Negeri di lintasan garis khatulistiwa, menjadikan masyarakat di negeri ini bermata pencaharian sebagai petani sejak berabad-abad lamanya, kini bernasib tragis.

Data di BPS menyebutkan, jumlah warga bermata pencaharian sebagai petani saat ini masih dominan, yakni 39 %. Namun dibanding sebelumnya, jumlah itu menurun. Data BPS menyebutkan, dalam setahun selama 2011 saja jumlah petani berkurang 3,1 juta (7,42 %).

Yang meresahkan lagi, usia rata-rata mereka 45 tahun. Artinya, dominasi pekerja sebagai petani lebih banyak dilakukan mereka yang berusia lebih dari 40 tahun, sementara teknologi pertanian seperti jalan di tempat. Ironis memang, karena yang membutuhkan pangan dari hari ke hari kian meningkat, seiring dengan jumlah pertumbuhan penduduk Indonesia.
Kondisi ini mengukuhkan kecemasan Thomas Malthus, yang sejak 1798 sudah memberi peringatan bahwa jumlah manusia meningkat secara eksponensial, sedangkan usaha pertambahan persediaan pangan hanya dapat meningkat secara aritmatika.

Teori dua faktor Herzberg mengasumsikan bahwa hanya beberapa ciri pekerjaan dan karakteristik dapat menghasilkan motivasi. Herzberg memandang bahwa kepuasan kerja berasal dari keberadaan motivator.
Faktor-faktor itu meliputi upah, kondisi kerja, keamanan kerja, status, prosedur perusahaan, mutu penyeliaan, mutu hubungan interpersonal antarsesama rekan kerja, atasan, dan bawahan.

Harus diakui, percepatan kemajuan industrialisasi kini lebih banyak didominasi perusahaan nonpertanian. Sementara pertanian, lebih banyak dikelola secara tradisional dengan jumlah lahan yang sempit.
Jumlah petani gurem di Indonesia menempati posisi tertinggi. Data BPS menyebutkan bahwa sekitar 60% atau 120 juta penduduk Indonesia tinggal di pedesaan dan 70% di antaranya hidup dari pertanian. Setengah dari jumlah itu adalah petani gurem atau petani yang memiliki lahan kurang dari 0,5 ha, bahkan sebagian besar bekerja sebagai buruh tani dan buruh perkebunan.

Mengacu dari pendapat Herzberg, ada sejumlah alasan mengapa jumlah petani berkurang. Soal gaji misalnya, bekerja di pabrik lebih jelas karena sistem penggajian bersandarkan pada aturan baku yang ditetapkan sesuai upah minimum kota/kabupaten (UMK) berikut tunjangannya.

Naik Kasta

Hal ini berbeda dengan dunia pertanian, yang lebih banyak didominasi petani gurem, yang persoalan manajemen usaha tidak dikelola dengan baik. Buntut dari semua itu, berimbas ke buruh tani.
Data di BPS, gaji buruh tani (harian) pada Januari 2012 dengan nominal Rp 39.727, namun riilnya hanya Rp 28.582 atau bahkan lebih rendah lagi. Bandingkan dengan UMK.

Yang lebih tragis lagi, karena sebagian besar petani adalah berlahan sempit, maka pemilik tanah penghasilannya juga bergantung dari panen. Dengan begitu, upah yang diberikan didasarkan pada persentase hasil panen atau menyesuaikan hasil panen. Kalau ini terjadi, berarti para buruh tani akan ''berpuasa'' beberapa bulan.
Di luar upah, kondisi kerja, keamanan kerja, status, prosedur perusahaan, mutu penyeliaan, mutu hubungan interpersonal antar sesama rekan kerja, atasan, dan bawahan, kondisi petani lebih tidak terjamin.

Akhirnya, bekerja di bidang nonpertanian seolah ''naik kasta''. Repotnya lagi, stigma buruk dunia ketenagakerjaan pertanian juga berimbas di lembaga pendidikan. Sekolah pertanian kini banyak dihindari. Sebagian orang menganggap, lulusan pendidikan pertanian kurang memiliki masa depan. Jumlah penimba ilmu di bidang ini, utamanya SMK Pertanian, makin lama kian susut. Jumlah SMK Pertanian hanya 210 dari sekitar 8000 SMK.

Di luar persoalan ketenagakerjaan, banyak masalah yang melingkupi kemunduran dunia pertanian di Indonesia. Menyempitnya luas lahan akibat konversi daerah pertanian menjadi industri dan perumahan, cukup memprihatinkan.
Hasil sensus lahan oleh Kementerian Pertanian (Kementan), lahan sawah pada 2010 susut menjadi 3,5 juta hektare (ha) dari 4,1 juta ha pada 2007. Dalam rentang waktu tiga tahun, konversi lahan mencapai 600 ribu ha.
Sikap pemerintah yang kurang berpihak pada pertanian, juga dapat dilihat dari pengembangan teknologi pertanian yang kalah jauh dibanding dengan Thailand.

Selain itu, terbukanya keran impor hasil pertanian dari tahun ke tahun kian membesar, menghancurkan kehidupan para petani di Indonesia. Produk dalam negeri tersisih, karena kalah kualitas dan harga. Kondisi pertanian jadi makin terpuruk. Sungguh ironis, petani kian menipis di negeri yang berjuluk agraris.(09)

l Edy Muspriyanto (/) 
Sumber: www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/03/11/179899/Petani-Menipis-di-Negeri-Agraris
 

Selasa, 02 April 2013

GUAN SIE Sistem Nepotisme Tiongha

Pakar manajemen Hermawan Kertajaya pernah mengatakan bahwa di kalangan masyarakat Mandarin ada system nepotisme yang tidak berkonotasi negatif. Dalam nepotisme yang disebut GUAN SIE ada aturan mengutamakan kerabat dekat untuk diajak kerjasama berkarya, namun reward dan punishment harus dilaksanakan dengan konsisten. Bila anak kandungnya yang bertugas menjaga toko mangkir, maka honorariumnya dipotong setara dengan absennya. Rekruitmen pegawai dilaksanakan secara obyektif sesuai fungsi dan kemampuannya. Bila kerabatnya belum mampu melaksanakan beban tugas, lebih dulu dikirim ke pendidikan yang sesuai. Kekerabatan dalam guan sie terasa lebih konsisten dan konsekuen terhadap aturan profesionalisme kerja. Disinilah antara lain letak sisi keunggulan masyarakat Mandarin dibanding pebisnis golongan lain. Bila ada warga Mandarin yang melakukan manipulasi di sebuah organisasi/perusahaan akan terisolir dari komunitasnya. Dengan demikian masyarakat yang berada dalam lingkungan guan sie (nepotisme?) akan terdidik untuk berpikiran lebih dewasa dan professional dalam berkarya. Sebaliknya dalam istilah NEPOTISME dan KOLUSI mengandung pengertian negatif yaitu mementingkan kerabat terdekat dengan menutupi kelemahannya serta tidak konsisten melaksanakan punishment walau kerabatnya tidak kredibel atau melakukan kesalahan/manipulasi.


Dalam lingkup nepotisme ini orang jadi manja, tidak dewasa dan sangat tergantung pada kerabat koneksinya. Suasana kerja tidak kondusif dan perasaan iri pegawai yang lain berkembang bagai api dalam sekam. Bila kepercayaan dan obyektifitas tidak terjaga, maka kemerosotan kinerja tinggal menunggu waktu saja. Dalam pengertian ini nepotisme menjadi penyakit berbahaya dalam tubuh organisasi. Nepotisme merupakan lahan subur untuk tumbuhnya bibit penyakit korupsi kanker bangsa.

Dan permasalahan yang sama pernah saya alami beberapa tahun lalu di sebuah organisasi intrakampus di unpad. Kita lebih mengenal nya dengan system kekeluargaan,system ini bisa di artikan sebagai “keluwesan”. Tapi bukan berarti menjadi suatu “pembenaran” atas permasalahan yang ada. Kekeluargaan hanya dalam ruang lingkup interaksi dan tidak meliputi wilayah kerja,akan menjadi ambigu ketika kekeluargaan dicampur adukan dengan suatu system yang namany propesional. Karena dua hal ini jauh berbeda, baik dalam pemaknaan maupun penerapanya. Kekeluargaan dalam ruang lingkup interaksi meliputi hal-hal yang diantaranya adalah hubungan antara invidu dengan individu, ada hubungan antara teman dengan teman,kakak dengan dengan adik dan sebaliknya sementara professional dalam wilayah kerja meliputi system kerja masing2. Setiap anggota memiliki tanggung jawab masing2, adapun dalam pelaksanaanya tanggungjawab tidak dapat dipisahkan dari garis komando dan koordinasi masing, kebijakan2 yang mendesak dan insidentil.

*Diketik Ulang

Kamis, 28 Maret 2013

Jiwa yang Hilang

Otak saya mulai membeku,entah kenapa saya merasa seperti robot,membuat sistem kemudian ikut dalam sistem tersebut. Saya butuh tantangan baru,bahkan saya pun hampir lupa cara untuk menulis.

Kalimat kalimat diatas akhir-akhir ini selalu muncul dalam pikiran saya,sudah saatnyanya saya memberanikan diri untuk melepas usaha ini.2 tahun menjalani dengan segala tekanan,kerugian dan keutungannya dan dibalik semua kisah lainya yang harus saya simpan. Sudah cukup rasanya saya membuktikan diri.

Saya butuh panggung yang benar-benar bisa jadi aktualisasi diri saya,bukan hanya sebatas materi tapi ada jiwa yang hilang ketika saya harus tetap disini. 7 tahun membangun mental,percaya diri,saya tidak ingin semua nya berakhir dengan keinginan untuk memiliki materi yang melimpah.Bagi saya materi itu hanya "reward' dari apa yang saya kerjakan bukan tujuan utama dalam berusaha.

Saya ingin jiwa saya kembali.


Rabu, 27 Maret 2013

Pendosa

Manusia yang setelah sekian lama hidup tapi tak pernah bersyukur.
Itulah aku,pendosa yang setiap terjepit mengadu pada-Mu.
Mengaku dengan yakin beragama tapi selalu memainkan nya dalam ruang logika.

Tapi aku sampai di satu batas ke ikhlasan ku.
Disaat menyadari dosa-dosa ku.

Titik yang membuat ku berfikir bahwa kekuatan yang kau berikan itu berbatas.
Bukan juga karena aku punya pengharapkan padaMu

Selasa, 27 Maret 2012

Sahabat-sahabat terbaik ku ( 2 )

Aku sudah tak sabar lagi menceritakan tentang sahabat ku yang satu ini, dimulai dari request wanita pilihan hatinya yang memberi comment di tulisan ku sebelumnya, ditambah dengan kisah hidup ku denganya dalalm perjalananku menggapai dunia.

Dicky, itulah nama sahabat ku ini. Aku mulai mengenal nya ketika kelas 3 SD,saat itu dia menjadi pesaing ku dalam memperebutkan juara umum, Perlahan-lahan naluri Intelegent ala CIA ku mulai bertanya siapakah dicky?karena bisa dibilang aku tidak begitu mengenal seluk-beluk keluarganya,selidik punya selidik, berdasarkan investigasiku pada ayah ku, ternyata kita punya hubungan saudara. Dia mulai memanggil ku "uncu". Dikarenakan jarak umurku dengan nya yang tidak begitu kentara. Berangsur-angsur panggilan itu mulai hilang saat SMA.

Dicky dan SD 01 pasar tiku, ketika ku mengingat kedua nya, aku teringat kisah cerdas cermat antar SD tingkat Kecamatan tanjung mutiara. aku,dia dan rahman menjadi utusan SD 01 tiku. Kita harus menerima kekalahan di final secara menyakitkan karena di curangi oleh panitia yang kebetulan SD nya menjadi finalis. Namun dihati kami dan hati peserta lain kamilah juara nya. Dan pada akhirnya tetap kita bertiga dan surya yang mewakili Kecamatan untuk Olimpiade yang dipimpin oleh pak Zainal(alm). Kenangan itu masih tersimpan rapat di otak ku. Wuhhh,

Dicky "the second leader". itulah yang sering terjadi antara ku dan dia. Sejak kelas kita bergabung dikelas 6, dia harus merelakan jabatan ketua kelas kepada ku. pernah pada suatu saat ketika aku menjadi pemimpin upacara, dia harus mengantikan aku di saat upacara masih berjalan dikarenakan aku hampir jatuh pingsan yang disebabkan oleh teriknya matahari ditambah perut ku yang belum diganjal dengan sarapan. Tidak hanya sampai persaingan ku dengannya. Persaingan itu juga terjadi dimata pelajaran, itu terlihat pada nilai Ebtanas kami, dia sekali lagi harus merelakan posisi pertama pada ku.baru kami sadari sekarang ternyata sampai saat ini sifat korelis ku lebih dominan darinya.

untung nya kita tidak pernah bersaing dalam wanita,aku punya cita rasa dan selera yang berbeda, ahh,,lagi-lagi sudah lah.mata ku tak kuat menahan kantuk setelah lelah seharian ini




Jumat, 02 Juli 2010

Surat Cinta untuk Ayahnda Tercinta


Kepada Ayahnda tercinta dikampung sana.

Assalamualaikum WW.

Apa kabar ayahnda di kampung?semoga ayahnda dan ibunda dalam keadaan sehat wal afiat. ahamdulillah Ananda di sini dalam keadaan sehat atas doa-doa ayahnda dan ibunda yang selalu mengiringi setiap langkah ananda.

Ayahnda tercinta, ananda memohon maaf bila ananda terpaksa mengirim surat ini seolah-olah ananda begitu sibuk sehingga tidak bisa memberikan kabar kepada keluarga. Tapi surat ini hanyalah sebagai penyampai rasa rindu ananda kepada keluarga. Sudah begitu lama rasanya ananda tak berkirim surat pada ayahanda, yang dikalahkan oleh sms dan panggilan telpon, bahkan ananda hampir lupa bagaimana menguntai kata-kata terindah untuk ayahanda tercinta.

Ayahanda, diluar sana terik matahari memancarkan cahaya di sela-sela jendela kamar ananda. Semoga cahaya ini menjadi pesan kehangatan untuk ayahnda dikampung.Ayahnda-lah inspirasi di saat Ananda patah semangat. Ayahnda, Maafkan ananda karena sampai saat ini ananda belum bisa berada dirumah, membantu kakanda untuk mempersiapkan resepsi pernikahannya.

Satu persatu anak-anak ayahnda telah memegang tanggung jawab nya masing-masing, sementara ananda masih berjuang untuk menyelesaikan study ananda. maafkan ananda yang mencoba mencari jalan sendiri. Hanya ucapan terima kasih yang bisa ananda sampai untuk ayahnda dan keluarga tercinta atas kesabaran keluarga tercinta dalam menghadapi ananda.

Hanya ini rangkaian kata-kata yang bisa ananda tulis pada ayahnda dan keluarga tercinta. Semoga 7 hari lagi ananda bisa bisa bertemu dengan ayahnda dan keluarga di kampung dan di rumah demokrasi kita. salam rindu dari anakmu di sudut sempit jatinangor.

Wassalam W.W

Senin, 12 April 2010

Untuk mu guru Hidupku (1)

Setelah sekian lama aku tak menulis lagi tentang dirimu Malam ini aku harus merelakan jari dan pikiranku untuk melukiskan tentang kau dan aku. Hampir 25 tahun kau telah membesarkan ku. Selama ini aku selalu mempertahankan egoku dengan jalan yang ku ambil. Kau tak pernah menghalangi apa yang kuinginkan. Ku mulai dari sebuah nagari kecil di bagian barat pulau sumatera, aku menimba ilmu dari sebuah SD favarit kampung ku. bukan maksud ku untuk menyombong. Tapi sudut nagari itu terlihat kecil untuk mengeksplorasi pikiran ku. Berbagai prestasi ku persembahkan untukmu. Dan juara kelas telah menjadi langganan dalam rapor yang berwarna putih itu.


Perlahan ku coba untuk melangkahkan kaki ku dalam menimba ilmu. Di masa akhir pendidikan dasarku, ku coba untuk memulai bermimpi. “Ayah, Aku ingin seperti Habibie’. Sebuah kalimat untuk mewakili sejuta mimpi ku. Entah sejak kapan aku mengenal habibie?.berjumpa pun tak pernah apalagi untuk mengenal nya. Tak lebih aku hanya tahu sepak terjangya dari sebuah Televisi hitam putih 17 inch yang selalu kami tonton bersama dan siaran favorit kami satu-satunya yaitu televisi kebanggaan negeri ini.


Pesantren Gontor adalah tujuan ku selanjut untuk mencapai semua mimpi ku.Terlahir sebagai anak bungsu, keluarga tidak siap untuk melepas ku begitu jauh..Konsensus keluarga ku akhirnya merelakan ku untuk menuntut ilmu di pesantren HAMKA.Yang sekolahnya ku kenal dari sebuah iklan di salah satu kolom Koran yang setiap hari ku antarkan keliling kampung untuk mencukupi biaya hidup keluargaku. Maklum kami sekeluarga harus berjuang hidup untuk menambah gaji PNS yang menjadi penompang hidup Yahhh..akupun tak bisa berkecil hati.setidaknya aku masih bisa mencicipi pesantren walaupun itu tidak di Gontor.








Senin, 25 Mei 2009

"Usia produktif, facebook dan kesemrawutan bangsa ini"



Beberapa malam yang lalu saya dikunjungi oleh seorang teman yang datang dari seberang pulau sana, beginilah nikmat nya berteman, walaupun jauh silaturahmi tetap kita jaga.(udah kaya ustad aja). Seperti biasa obrolan kami tak jauh mengenai perjalanan hidup kami masing-masing, kebetulan dia sudah bisa dibilang mapan dan mencapai apa yang di cita-citakanya. Sementara saya masih keasikan menjadi mahasiswa (hehe,sedikit curhat ni).

Lama kelamaan obralan kami mengarah mengenai waktu produktif. Karena kebetulan saya lagi "login" di salah satu situs jejaring yang lagi ngetreng saat ini. Hitung punya hitung ternyata usia produktif saya telah di renggut (dengan logat bang napi) )oleh salah satu situs jejaring tersebut.

Begini hitung hitungan saya dan dia,sebut saja namanya "parno". (bukan nama sebenarnya).hahah.kok kayak salah satu majalah yang pernah populer di zaman saya SMA dulu ya,majalah yang suka dijual dalam amplop tertutup di terminal andalas padang,yang namanya mirip dengan salah satu lembah di payakumbuh

Okey,"mari kita Lanjutkan" hitung-hitungannya. saya ambil asumsi minimalnya, dalam satu hari saya bisa menghabis 4 jam untuk login di situs jejaring tersebut.dalam satu minggu ada 7 hari. berarti saya sudah menghabiskan (4X7=28jam)28 jam dalam seminggu hanya untuk situs jejaring ini. artinya saya membuang 1 hari lebih usia produktif hanya untuk login di situs tersebut. Wahhh, "gila aja lu" begitukah tangguhnya candu yang bernama facebook tersebut? Kemudian dia melanjut kan. Bayangkan dan hitung lah itu dalam satu bulan dan satu tahun. Berapa usia produktif yang saya pakai hanya untuk situs tersebut.begitu lah hitung-hitungan saya dengan si parno.

Sebelum saya bertemu dengan si parno,kita (saya dan beberapa teman saya yang sering menggunakan situs jejaring tersebut) juga pernah membahas nya ketika salah satu dari teman saya, sebut saja namanya "tejo" (wah.wah. kebayang lagi tu majalah) memberikan tautan mengenai ucapan CEO Google yang berbicara pada lulusan University of Pennsylvania, Amerika Serikat "Matikan Komputermu dan Jadilah Manusia!". Berbagai komentar datang bak banjir bandang situ gintung (hiperbola banget sih gw). Saya coba mengkontrol ce dan kontrol ve beberapa komentar di tautan itu, kebetulan sekali karna mereka blum menjadi orang yang terkenal sehingga saya tidak harus membayar royalti atas komentar mereka dan belum menjadi quote yang di kutip oleh para penulis (mudah-mudahan mereka sukses,sukses untuk keluarga dan lingkungannya.amin). Beginilah kira-kira komentar mereka:

"matikan hp..matikan komputer..marilah kita bersosiliasi secara langsung...pernah nonton WALL E kan ? tidak mau kan mengalami kejadian yang seperti yang digambarkan di FILM tersebut?"

"susah jack. Kluar duit beli HP biar bisa gampang menghubungi dan dhubungi. Mubazir dunk. Klo PC saya, mo dilipat ga bsa. Mo jalan" keluar ga ada teman, mw having fun sendirian, ga ad duit. Mo menikmati dunia, beban blom tuntas, psti kepikiran...hm hm hm.. akhrnya, i tried to be realistic..toh pke PC and HP nya jg ga berlebihan. Hahahaha, gmana dunk solusi klo kasus ky gtu."

Dan tadi pagi di salah satu UKM unpad yang pernah saya nahkodai beberapa tahun yang lalu, di evaluasinya, kami membahas tentang komunikasi organisasi yang sudah mulai kehilangan arah mengenai caranya yang lebih trend dengan memasang pemgumuman di kaca dan mading yang peruntukannya bukan lagi sebagai Majalah dinding. yang mengakibatkan "misscommunication." .saya jadi kepikiran apakah ini akibat kebiasaan menulis di wall seseorang?(ntahlah,hanya mereka yang tahu). Sehingga komunikasi dua arah antara individu tidak lagi menjadi suatu keharusan. Dan ketika perjalanan pulang saya bertemu dengan 2 orang yang sering saya temui di situs jejaring ini. Seketika saya berkomentar dengan quis yang dia ikuti dan pembicaraan mereka "wall to wall". Teman saya si tejo dengan kebiasaan cetusnya langsung mengeluarkan statment. "saat ini komunikasi verbal sudah tidak lagi menjadi ciri manusia".

Kenapa pas di paragraf ini saya akhirnya bingung sendiri ya? ternyata saya sudah menggunakan hampir stengah jam waktu saya hanya untuk menulis catatan yang ga penting ini. apalagi pikiran saya mulai digoda oleh goyangan dan suara aura kasih di salah satu TV swasta. Pikiran saya mulai menerawang kemana-mana,mulai dari menyelesaikan tulisan ini, sampai undang-undang pornografi dan pornoaksi yang sampai sekarang tidak tahu bagaimana implementasinya.

"HIDUP ADALAH PERBUATAN" begitulah bunyi kata-kata di salah satu "papan iklan" yang sering saya jumpai di jakarta dan bandung sewaktu masa "kampanye gelap" dulu sebelum KPU mengeluarkan peraturan Kampanye dan BAWASLU belum menerima anggaran untuk mengawasi jalannya Pileg. Ya sudahlah, tak ada habis nya untuk mengkritisi sesuatu. semoga saja saya bisa berbuat dengan apa yang katakan.Seperti apa yang dikatakan oleh salah satu capres yang mengklaim dirinya adalah pasangan nusantara "BANGSA INI BARU MAJU KALAU SUDAH SATU KATA SATU PERBUATAN".

selamat malam.


Kamis, 21 Mei 2009

Seandainya Indonesia tak pernah memiliki BJ. Habibie?

Pertanyaan itu muncul muncul seketika dalam pikiran ku. Ketika membaca dan mendengar jatuh nya pesawat jenis angkut berat angkatan udara Tentara Nasional indonesia. Beberapa hari sebelum hari kebangkitan nasional. yang menewaskan para tentara-tentara terbaik bangsa ini. Mereka mati sebelum berperang.hanya ucapan bela sungkawa yang bisa kupanjatkan saat ini. Semoga pengorbananmu memberikan arti bagi bangsaku untuk bangkit. "mati satu tumbuh seribu".

Masih teringat dalam pikiran ku,Ketika SD dulu. Burhanuddin jusuf habibie atau aku lebih mengenalnya dengan BJ. Habibie yang menjadi inspirasi bagi hampir seluruh rakyat indonesia. seketika para orangtua di negaraku ini berharap anak nya bisa menjadi insiyur seperti mu(habibie) dan diiringi dengan kemauan si anak. begitu juga yang terjadi pada ku,hanya ada satu kata di dalam otak ku ketika orang bertanya apa cita-cita mu nak?"insinyur". Dengan suara lantang aku mengeluarkan kata-kata itu sambil menambahkan kalimat "aku ingin seperti habibie,aku ingin membuat pesawat terbang". Yang sampai sekarang masih menginspirasiku.Saat itu.dibelahan lain negara ku ini, aku yakin anak-anak bangsa ini mempunyai cita-cita yang sama dengan ku.

Sekarang aku kembali berfikir, seandainya habibie tak pernah dilahirkan di negara ku. akankah ada orang lain yang menginspirasi ku,menginspirasi ku untuk berbuat lebih buat tanah lahir ini. akankah ada anak-anak di negara ku memiliki cita-cita untuk menjadi insinyur seperti mu.

Seandainya Indonesia tak pernah memanggil engkau (habibie) kembali ke tanah airku, akankah Indonesia memiliki badan-badan riset, seperti BPPT,LAPAN,LIPI,DLL yang anggarannya tak pernah melebihi kekayaan orang terkaya di negaraku.

Seandainya Indonesia tak pernah memanggil engkau (habibie) kembali ke tanah airku, akankah indonesia memiliki PT. DI yang sekarang fungsinya di kerdilkan oleh para penguasa dan pengusaha.

Seandainya Indonesia tak pernah memanggil engkau (habibie) kembali ke tanah airku, akankah indonesia memiliki BUMN strategis yang menjaga kedaulatan negara ini yang saat ini selalu bermasalah dengan kucuran kredit.

Sekarang aku tak berharap lagi engkau (habibie) menjadi kepala BPPT, ataupun Menteri RISTEK, bahkan Presiden sekalipun.

Aku hanya berharap bangsa ini memiliki putra-putri yang karakter sepertimu. bukan seperti para politisi dan presiden saat ini yang terlalu sibuk "tebar pesona" untuk mengangkat citra pribadi mereka di hari rakyat. Aku hanya berharap bangsa ini memiliki putra-putri yang bisa menciptakan kemandirian,menjaga kedaulatan bangsa. Agar negara ini tidak ada lagi ketakutan akan embargo. Agar singapura tidak "semena-mena" lagi kepada kita atau malaysia yang lupa kepada siapa dia belajar membaca dan menulis.

Ciloteh kamar kusam
Thursday, May 21, 2009 at 1:00pm

Senin, 13 April 2009

SEJARAH RINGKAS DATUK RANGKAYO BASA DI KANAGARIAN TIKU - AGAM

Menurut silsilah (ranji), kaum keturunan Datuk Rangkayo Basa (DRB) di Kanagarian Tiku berasal dari sebuah perkampungan kaum suku Jambak bernama Galo Gandang di Tanah Data. Salah seorang dari kaum ini, pada masa yang tidak teridentifikasi, merantau ke pesisir barat bernama Puti Sanang Hati dengan membawa empat orang anaknya, tiga perempuan dan seorang laki-laki. Anak yang pertama bernama Puti Ambat, yang kedua bernama Puti Langgam, yang ketiga adalah laki-laki yang bernama Sutan Mara Basa, serta yang bungsu bernama Puti Manis. Menurut ranji yang saat ini masih disimpan oleh kaum keluarga DRB di Galo Gandang Tanah Data, Puti Sanang Hati mempunyai empat orang anak, namun nama anak-anak tersebut tidak disebutkan karena ranji mereka putus sampai Puti Sanang Hati saja, namun hanya tertera bahwa Puti Sanang Hati memiliki empat orang anak, satu diantaranya adalah laki-laki. Dalam dalam ranji keluarga DRB di Tiku, nama-nama kaum keluarga ini tercatat dengan baik. Sehingga singkatnya untuk menjaga tali hubungan darah ini tidak putus, maka pada masa itu DRB pun dilewakan di nagari rantau pesisir ini. Sutan Mara Basa sebagai satu-satu anak lelaki dalam kaum ini dilewakan gelar Datuk Rangkayo Basa. Karena ciri-ciri dari Sutan Mara Basa ini orangnya tinggi berdada cekung, maka beliau juga disebut oleh orang sebagai Datuk Rangkayo Basa nan Cakuang Dado (Di samping tersebutkan pada ranji, tanda kebenaran kaum keturunan ini berasal dari kaum keluarga Jambak Galo Gandang Tanah Data dapat dilihat pada pandam pekuburan kaum Jambak di Jawi-jawi Tiku yang batu nisannya berasal dari kerajinan Galo Gandang Tanah Data). Menurut kisah yang siriwayatkan oleh para tuo-tuo kaum suku jambak, Sutan Mara Basa bergelar datuk Rangkayo Basa (nan cakuang dado) terkenal karena berbagai keistimewaan yang dimilikinya sehingga hal ini membuatnya sangat disegani di dalam dan di luar nagari Tiku. Sehingga selain gelar Datuk Rangkayo Basa merupakan gelar sako kaum jambak juga merupakan gelar pemimpin dalam kanagarian Tiku yang menaungi suku-suku lainnya di kanagarian Tiku. Hal ini terlihat dari kepemimpinan-pemimpin penyandang gelar sako DRB di Tiku yang semuanya merupakan wali nagari kanagarian Tiku.

Ranji DRB di kanagarian Tiku (pesisir barat) yang asli dibuat dalam tulisan arab, sama halnya dengan ranji yang asli yang ada di tangan kaum kelurga DRB di Galo Gandang Tanah Data. Kemudian oleh salah seorang cucu kemenakan St Mara Basa Datuk Rangkayo Basa yang bernama Haji Abdul Wahab atau Buyuang Enek (bergelar Sutan Badar Alam), ranji bertulisan arab ini dibuatkan ke dalam bahasa latin (Indonesia), sementara ranji yang asli bertulisan arab tersebut masih disimpan dengan baik.

Dalam sistem kekerabatan matriakhat di Minangkabau, sako dan pusako diwariskan secara turun temurun menurut garis ibu. Kawasan pusako kaum keluarga suku Jambak ini meliputi daerah Jawi-jawi sampai ke Cacang (Tiku). Demikian pula halnya, ketika Sutan Mara Basa bergelar Datuk Rangkayo Basa memasuki masa purna tugas sebagai pemegang sako tinggi kaum keluarga suku Jambak, maka sako ini pun diteruskan oleh kemenakan dan cucu-cucu kemenakannya yang semuanya juga menjadi pimpinan di kanagarian Tiku. Dalam ranji kaum ini dapat ditemui nama-nama cucu kemenakan yang meneruskan sako kaum ini. Cuku kemenakan yang terakhir memegang gelar sako Datuk Rangkayo Basa ini bernama Sutan Tamin, juga wali nagari Tiku. Namun ketika Sutan Tamin Datuk Rangkayo Basa wafat sekitar tahun 1970, gelar sako ini tidak dapat terselenggarakan lagi dengan baik karena kemenakan yang seharusnya melanjutkan kepemimpinan kaum keluarga, diantaranya H Abdul Wahab bergelar Sutan Badar Alam, berada diperantauan. Namun agar tanda pusako dan identitas kaum Jambak kanagarian Tiku keturunan kaum keluarga Datuk Rangkayo Basa tidak hilang, semasa hidupnya Sutan Badar Alam telah memugar pandam pakuburan kaum Jambak yang terletak di Simpang Tiga Jawi-jawi Tiku dan bangunan rumah gadang yang teletak di Jawi-jawi (tidak jauh dari pandam pakuburan ini) direhabilitasi dan sebagian tanahnya dijadikan bagunan sebuah mesjid yang bernama Nurul Wahab. Pada pandam pakuburan kaum ini terbaringlah Puti Sanang Hati dan anak-anaknya termasuk Sutan Marah Basa Datuk Rangkayo Basa serta semua generasi kaum suku Jambak kanagarian Tiku kaum keturunan Datuk Rangkayo Basa yang berasal dari Galo Gandang Tanah Data ini.

Sako Datuk Rangkayo Basa sudah tidak dilewakan lagi semenjak meninggal Sutan Tamin sebagai pewaris yang terakhir, walau ada upaya dari berbagai pihak untuk meminjamnya. Di samping itu, berbagai perkembangan situasi politik telah menyebabkan pula berbagai hal terjadi pada gelar sako DRB ini.

Datuk Rangkayo Basa boleh tiada, namun semangat dalam membangun kampung dan kaum keluarga seperti yang pernah dilakukan oleh pemangku-pemangku sako Datuk Rangkayo Basa masih melekat di dalam jiwa setiap anggota kaum keluarga, baik yang masih berada di kampung maupun yang di perantauan.


Rabu, 01 April 2009

Indahnya Laguna Tiku


Tiku sering digelari orang pantai mutiara. Gelar yang sangat pantas tampaknya, karena nagari di pesisir Kabupaten Agam ini memang sangat indah bak untaian mutiara mutu manikam.

Kebesaran nama Tiku sebenarnya sudah sejak dulu, ketika di pantainya kapal-kapal dagang Inggris, Portugis dan Belanda berebut merapat untuk menampung berbagai rempah dari pedalaman Sumbar seperti pala, kulit manis (casiaverra), cengkeh dan lain-lain yang banyak tumbuh di sepanjang kawasan pesisir dan pedalaman Sumbar. Sampai sekarang bekas-bekasnya masih bisa dilihat di sekitar Lubuak Basuang, Manggopoh dan Danau Maninjau. Pala, kulit manis dan cengkeh banyak tumbuh di kawasan tersebut.

Kita masih bisa melihat bangunan berarsitektur kolonial di pusat Kenagarian Tiku, meskipun kondisinya sudah tak terawat sama sekali, bahkan boleh dikatakan hampir runtuh. Pas di pinggir jalan raya Pariaman – Lubuak Basuang atau Pariaman - Pasaman Barat. Tepatnya di pasar Tiku.

Namun bukan itu yang paling menarik. Bicara tentang Tiku mau tak mau harus bicara tentang pantai dan lagunanya. Tanpa harus repot-repot memasuki gerbang ini itu, dari pinggir jalan saja Anda turun dan permisi masuk ke ladang kelapa penduduk setempat Anda sudah bisa menikmati keindahan asri laguna Tiku, karena memang laguna nan cantik itu terletak di belakang rumah penduduk saja. Alangkah beruntungnya punya lanskap seindah itu di belakang rumah…

Deretan pohon kelapa yang meneduhi telaga bening di tepi pantai tersebut sungguh sangat menyejukkan jiwa yang memandanginya. Apalagi kalau pas sunset, tak terkatakan indahnya. Yunofrin, Sekjen MPKAS (Masyarakat Peduli Kereta Api Sumatra Barat) pernah mengatakan sunset di Tiku adalah sunset terindah di Sumatra Barat.

Seperti obyek-obyek wisata Sumbar yang belum tersentuh tangan lainnya, laguna Tiku menunggu sentuhan investor yang betul-betul mengerti pariwisata. Jangan sampai kawasan seindah ini jatuh ke tangan para petualang pariwisata yang bisanya hanya melihat keuntungan saja, tanpa memikirkan pentingnya pemeliharaan dan perawatan lingkungan. Sebab hasil akhirnya nanti bisa-bisa hanya akan mengundang wisatawan lokal kelas rendahan, yang suka makan nasi bungkus lalu membiarkan sampahnya berserakan di mana-mana.

Atau yang suka membangun panggung kayu lalu menggelar dangdutan di atasnya, yang bisa mengundang wisatawan tak berkelas ke kawasan itu, atau membangun gazebo-gazebo seadanya tempat duduk-duduk para kurawa atau pasangan-pasangan mesum yang suka pacaran di sembarang tempat.

Karena sesungguhnya laguna Tiku benar-benar tak pantas untuk itu. Dia harus disentuh investor berkelas, yang tahu selera bagus, karena laguna Tiku benar-benar kawasan pilihan yang tidak kalah dengan obyek-obyek wisata berkelas lainnya d Indonesia. Sentuhanlah yang akan membedakannya, yang akan membuatnya tetap asri dan terpelihara selamanya atau sebaliknya: membuatnya layu tak berseri.

Cobalah ke Tiku dan nikmati pesonanya yang beda. Allahuakbar, terpujilah Tuhan yang menciptakan karya maha indah itu.


Cara ke Laguna Tiku
Dari Padang melewati jalan beraspal mulus ke Pariaman, terus menyusuri pantai ke Sungai Limau dan akhirnya sampai ke Tiku. Jaraknya hanya sekitar 100 kilometer dengan kondisi jalan yang rata tanpa turunan dan tanjakan atau belokan tajam. Terdapat 11 SPBU yang siap melayani Anda di sepanjang jalan. (imran rusli)

Kamis, 11 September 2008

Sahabat-sahabat terbaik ku

Dicky,erick,Yan.Itulah nama-nama sahabat-sahabat terbaik ku. pahit manisnya perjalanan hidup telah kulalui bersama mereka. pertemuan kami di mulai dari TK dan sekolah dasar.

Mari kita mulai dari erick,aku lebih mengenalnya dengan ijua,karna rambut nya tak pernah bisa di ajak kompromi alias susah di atur.Kalau ada erick-erick lain di kampung ku, Mungkin saja kampung ku sudah menjadi sentral industri sampu ijua yang bisa menambah income perkapita.Haha...

Si tukang berantam ini takkan pernah kalah dalam berkelahi,karna dia selalu memiliki super hero,alias adek nya een yang selalu ikutan membantu,alias 1 lawan 2.Berperawakan kecil seperti mama nya membuat ijua pantang untuk di remehkan.Sampai saat sekarangpun,aku masih melihat sisa kenakalan di pahanya,sisa adu ilmu dengan pagar sekolah di saat kita belajar sore menghadapi ebtanas.hahah,ijua,,,ijua,"dasar ang".

Walaupun nakal di sekolah,"si ijua" tetap meraih rangking di kelas.kalau aku lebih menganggapnya karena mama nya mengajar di SD yang bersangkutan,sehingga wali kelas malu dan segan untuk tidak memberikannya rangking.(maaf jua.Just kidding).yang pasti dia tetap dibawah rangking ku.

Hanya satu yang membuat dia unggul dari ku.Pingpong,.Sampai sekarang aku masih penasaran untuk membuktikan siapa yang terbaik dari kami.Susah sekali mengalahkan "si kecil cabe rawit ini.Sejak papa nya memberikan kado meja pingpong.Posisi nomor satu ku untuk tiku di geser oleh nya.(kapan ya di tiku ngadaiin kejuaran pingpong?maaf hanya pengakuan pribadiku).Sampai suatu saat,ketika seleksi porseni untuk mewakili kec, Tanjung mutiara.aku harus merelakan dia yang mewakili SD kami.karena hanya satu orang yang bisa di utus.Karena cuma satu SD lain yang mengirim utusan dan itupun di kalahkan dengan mudah.Akhirnya aku mendampingi dia untuk mewakili kec. Tanjung mutiara.

Ternyata pagi ini mata ku tidak bisa lagi diajak kompromi.Padahal aku masih ingin bercerita tentang sahabat-sahabat terbaik ku. Yo wesh..Tulisan ini kupersembahkan untuk mu.Selamat berjuang sobat.Perjuangan harus berada di garis terdepan.Semoga kau sukses di yogya sana.

To be continue(dicky,yan)..................................





Selasa, 09 September 2008

Sisa sejarah Tiku

Kembali pada cerita tentang nagari tiku.
Pada abad 18 an.Tiku adalah salah satu tempat pelabuhan besar di daerah minang kabau.Salah satu bukti sejarah disana adalah gaya pakaian "marapulai".Dimana gaya berpakaian marapulai sama seperti yang di pakai para matador di spanyol.Kaos kaki tinggi dan rompi.

Ini merupakan salah satu bukti sejarah bahwa ketika portugis meninggalkan tiku. kata tiku sendiri berasal dari tako atau teko.Yang berarti tempat penampungan.Yang berarti tiku di jadikan sebagai Tempat logistik para penjajah.

Dikutip dari berbagai sumber.

To be continue......

Senin, 08 September 2008

Lima tempat yang tidak di rekomendasikan untuk di kunjungi di SUMBAR

Inilah lima tempat di sumbar yang tidak di rekomendasikan untuk kita kunjungi:

1.Pantai padang

Salah satu objek wisata ini hanyalah tempat sampah kota padang.Anda tidak akan menemukan keindahan di pantai ini.hanya pasir hitam dan sampah yg berserakan di bibir pantai. lampu-lampu hias yang sudah tidak berfungsi lagi.Adat basandi sara,sara bersandi kitabullah hanya sebuah slogan bukan prinsip hidup.Karena saudara akan menemukan para muda-mudi yang sedang bercumbu.Ditambah pengamen yang minimal harus dibayar diatas Seribu.Saya lebih suka menyebutnya tukang "palak"

2.Homestay Maninjau

Apakah arti homestay buat kita semua?rumah yang ditinggalkan atau tinggal seperti di rumah,kalau saudara memilih rumah yang ditinggalkan,silahkan saudara berkunjung ke maninjau. Karna disana berjejeran rumah-rumah yang di tinggalkan para penghuni nya.Tetapi kalau memilih tinggal seperti di rumah,saya merekomendasikan untuk tidak mengunjungi maninjau.

3.Bukittinggi sewaktu lebaran.

Sebagai salah tujuan wisata kuliner,bukittinggi tidak bersahabat sewaktu lebaran bagi para wisatawan dan para "perantau",karena harga nya sama seperti dolar, memiliki fluktuasi yang sangat hebat.karena ada "pameo" bari para penjual makanan."Bilo lo urang rantau ka balanjo di siko lai,skali-skali lo ka di pakuak nyo". Prinsip ekonomi berlaku.

4.Bandara internasional Minangkabau.

Karena bukan kata-kata selamat datang yang akan saudara temukan ketika menginjak kaki di sumbar. Melainkan para sopir taksi yang menawarkan jasanya untuk mengantarkan saudara dengan harga yang tidak masuk dalam logika kita semua.Jumlah nya hampir sama dengan para penumpang yang turun dari pesawat.

5.minang Plaza
Bagi para pecinta sepeda motor.berhati-hatilah ketika saudara memasuki kawasan minang plaza.Saya merekomendasikan saudara jika membawa helm yang harga diatas 50.000 untuk menbawanya atau menitipkan di tempat yang benar-benar saudara anggap aman. harga helm saudara tidak lebih dari 5000 rupiah ketika sudah berada di parkiran minang plaza.Kenapa?Karena hanya bermodalkan pisau silet n sejenisnya,Helm bisa hilang begitu cepat.

Selamat berwisata di Sumbar.

Dikutip dari berbagai sumber yang merasa kecewa dengan kampung halamanya sendiri.




Minggu, 07 September 2008

Tiku nagari nan elok


Tiku,ketika ku mendengar n mengatakan kata ini.Aku teringat akan sebuah nagari kecil di pesisir pantai barat sumatera nan begitu indah yang selalu membuat semangat ku selalu berkobar untuk kembali kenagari ini.Nagari yang menjadi pintu gerbang kabupaten agam bagian barat.

Lahir dan di besarkan di desa ini adalah suatu anugrah yang indah buat ku. Ciptaan tuhan yang benar-benar elok.

Deburan ombak pantai ujuang tanjung dengan sebuah papan kecil untuk surfing ala anak tiku,kerja-kejaran ombak untuk bisa "toraik" dengan papan payang.mancari "rimih" setelah jumat dan menyisir indah nya tepian pantaimu.atau menjadi nahkoda kecil dengan kapal "anak ula" menuju dua pulaumu nan berpasir putih.Kelapa muda untuk pelepas dahaga sampai puas n muntah.memancing "marang" dengan kail "cangkuak".Ohhhh tuhan,aku benar-benar rindu dengan suasana itu.

Sayang, sekarang aku hanya bisa bernostalgia dengan semua suasana itu,Tuntutan hidup harus membuat ku jauh dari kampung halaman ku.

Namun ku akan menceritakan semua keindahan ini pada generasi-generasimu.

Dan suatu hari nanti aku akan kembali padamu,untuk mengabdikan ilmu ku.Dan menceritakan masa depan dan potensi mu, bersama generasi-generasimu dan orang lain.

Makasih Ayah,Engkau mengajarkan ku arti sebuah hidup


terlahir sebagai seorang anak guru di sebuah desa kecil di pesisir pantai ternyata menjadi sebuah tantangan dalam hidup ku.

tahun 1992-1997 ketika perekonomian orang pesisir pantai berada pada masa kejayaannya,aku hidup dengan gaji dari seorang ayah yang di dapat dari mengajar.
lingkungan ku membuat ku hidup seperti mereka,dimana satu hari kerja mereka sama dengan gaji satu bulan ayah

Setiap aku meminta belanja.Ibu ku selalu mengatakan "emang si "N" ayah ang"(salah satu orang kaya di kampungku).

Ayah tak pernah menolak ketika aku meminta uang untuk membeli buku dan susu.Walaupun kadang2 uang nya tidak ada.

Kini ku terdasar,ketika jenjang pendidikanku terus meningkat,
bahwa Hidup bukanlah mengenai materi,tapi hidup mengenai arti.

to be continue........